Jumat, 21 Juni 2019

KasusTraveloka

Kasus Traveloka 


Dalam tulisan  ini, akan berfokus pada bahasan mengenai bagaimana praktisi Public Relations menangani sebuah isu, dan studi kasus yang akan di angkat adalah “Krisis Aksi Boikot #UninstallTraveloka” yang marak pada bulan November tahun 2017 yang lalu.
      Tulisan ini bertujuan untuk memfokuskan dan mengkaji salah satu teori dalam strategi narasi memersuasi publik, yaitu pembahasan mengenai teori Integrasi Informasi dan bagaimana informasi tersebut dapat berdampak pada sikap seseorang yang menerimanya. Selain itu, teori ini juga bertujuan untuk mengetahui dan memberikan pemahaman mengenai teori Integrasi Informasi.

Deskripsi Kasus
Traveloka merupakan perusahaan yang menyediakan layanan pemesanan tiket pesawat dan hotel yang mempunyai basis operasional di Jakarta. Pada awal konsepnya, Traveloka berfungsi sebagai mesin pencari untuk membandingkan harga tiket pesawat dari berbagai macam situs. Pada pertengahan tahun 2013, Traveloka kemudian berubah menjadi situs reservasi tiket pesawat di mana pengguna dapat melakukan pemesanan di situs resminya. Tak cukup disana, pada bulan Juli 2014 pun akhirnya jasa pemesanan hotel telah tersedia di situs Traveloka.
Sebagai salah satu pelopor situs pemesanan tiket transportasi dan hotel di Indonesia, nama Traveloka tampaknya memang sudah tidak asing bagi warga Indonesia. Hal ini juga terlihat dari jumlah pengguna aplikasi maupun pengunjung situs website yang telah menggunakan jasa perusahaan jasa ini untuk memudahkan perjalanan mereka. Namun, meski namanya yang telah besar di kalangan masyarakat, ancaman krisis tidak luput, bahkan untuk perusahaan seperti Traveloka.


 Pada bulan November tahun 2017 lalu, perusahaan tersebut sempat mengalami krisis berkaitan dengan integritas perusahaan yang disebabkan oleh salah satu sikap petingginya, yakni Derianto Kusuma selaku pendiri Traveloka.
Masalah ini bermula dari terpilihnya Derianto Kusuma sebagai alumnus berprestasi SMA Kolese Kanisius di Jakarta dan kabar kehadirannya di acara peringatan 90 tahun berdirinya SMA Kanisius Kolese. Digelar di JIExpo Kemayoran pada tanggal 11 November lalu, acara ini sekaligus menjadi ajang pemberian penghargaan kepada alumni Kanisius Kolese yang menorehkan prestasi besar di kancah nasional. Dari 95 alumni yang menjadi kandidat, lima orang terpilih menerima penghargaan ajang bergengsi tersebut. Di antaranya adalah Ananda Sukarlan (pianis dan komposer musik ternama), Derianto Kusuma (pendiri Traveloka), Romo Magnis Suseno (tokoh Jesuit), Irwan Ismaun Soenggono (tokoh pembina Pramuka), dan Dr. Boenjamin Setiawan (pendiri Kalbe Farma).

Pada acara tersebut, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, turut hadir dalam acara tersebut. Anies memberi sambutan, sekaligus sebagai tamu kehormatan. Namun saat Anies naik ke panggung dan hendak memberikan pidato pembukaan, Ananda Sukarlan yang duduk di kursi terdepan (VVIP) tiba-tiba berdiri dan keluar dari ruangan.
 Tak disangka, sikapnya ini pun akhirnya diikuti oleh sejumlah alumnus lain yang hadir sebagai tamu undangan. Setelah berita ini tersebar di telinga masyarakat, Ananda Sukarla pun akhirnya angkat bicara.Ia mengaku melakukan aksi tersebut karena ia menilai bahwa Anies menganut nilai-nilai dan integritas yang bertentangan dengan ajaran Kanisius.
Apabila kita menarik pada permasalahan yang sebelumnya marak di Indonesia, perjalanan Anies menuju kursi tertinggi di DKI Jakarta penuh dihiasi dengan konflik yang berbau SARA. Ditambah lagi, Anies dan Sandiaga Uno harus berhadapan dengan pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat di putaran kedua, saat Ahok sedang diterpa isu penistaan agama. Hal ini pun menciptakan jurang diantara 2 kubu yang bertolak belakang dan mempunyai kekuatan opini yang sama kuat pula.


Setelah menerima penghargaan, Ananda menyampaikan keluh kesahnya itu dalam pidato singkatnya. Termasuk kekecewaannya pada panitia yang mengundang Anies Baswedan, terlepas dari jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Namun, pernyataan kekecewaan itu disampaikan ketika Anies Baswedan sudah tidak ada di tempat. Setelah turun dari panggung, Ananda mendapat tepukan tangan meriah dari para hadirin, termasuk Kepala SMA Kanisius Kolese.
Dari sinilah, beredar isu yang mengatakan bahwa Derianto, merupakan salah satu alumni Kansius yang turut melakukan aksi keluar ruangan saat Gubernur Anies menyampaikan pidatonya. Tak disangka, informasi atas sikap yang dilakukan Derianto, memberikan dampak yang cukup besar bagi sebagian pengguna Traveloka, bahkan sampai memicu ajakan untuk tidak lagi menggunakan jasa perusahaan tersebut dan membuat #UninstallTraveloka menjadi trending topic di salah satu platform media sosial (Twitter) selama berhari-hari.
Meskipun Gubernur Anies sempat meredam suasana dengan menyampaikan tanggapannya mengenai apa yang terjadi di acara ulang tahun SMA Kolese Kanisius yang berisi anjuran untuk tidak membawa masalah ini menjadi semakin rumit, masyarakat tetap tidak peduli dan tetap melakukan aksi boikot tersebut.
Setelah berbagai terpaan isu yang ramai di sosial media dan berbagai situs lainnya, akhirnya Public Relation Manager Traveloka, Busyra Oryza, mengklarifikasi isu tersebut. Ia membenarkan bahwa Derianto merupakan salah satu penerima penghargaan dari Alumni Kanisius. Namun, Derianto yang kini menjabat Chief Technology Officer (CTO) Traveloka tidak bisa hadir pada acara ulang tahun SMA Kolese Kanisius tersebut karena sedang berada di luar kota.

"Beliau berhalangan hadir dikarenakan beliau sedang melakukan perjalanan dinas yang telah direncanakan beberapa bulan sebelumnya," kata Busyra dalam keterangan resminya, Selasa (14/11/2017). (Sumber: katadata.co.id). Busyra Oryza juga turut menegaskan bahwa




Traveloka merupakan perusahaan berbasis teknologi yang didirikan oleh anak-anak Indonesia, mengedepankan nilai saling menghargai, bertoleransi, dan berinovasi. Nilai- nilai tersebut sangat diterapkan kepada karyawan maupun pemangku kepentingan eksternal lainnya.

 Analisis Permasalahan keterkaitan dengan teori
Dalam permasalahan krisis yang dialami oleh perusahaan jasa Traveloka yang telah dipaparkan di atas, dapat terlihat bahwa informasi tertentu dapat sangat mempengaruhi perubahan sikap publik. Hanya karena sikap yang dilakukan oleh satu orang yang dianggap sebagai tokoh yang berpengaruh dalam perusahaan, citra perusahaan bisa sangat dipertaruhkan. Traveloka merupakan salah satu situs pelayanan jasa pembelian tiket dan pem-booking-an hotel yang sudah dipercaya oleh sebagian besar kalangan masyarakat. Namun, karena satu isu yang bersifat negatif atau berlawanan dengan apa yang dipercayai masayarakat, integritas perusahaan pun dipertanyakan.
 Hal ini sesuai dengan bunyi teori integrasi informasi yaitu:
Menurut heath 2005, di kutip dari kriyanto,2014. Teori ini menjelaskan bahwa individu membentuk sikapnya dengan cara memadukan atau mengintegrasikan informasi atau hal-hal yang psitif maupun negatif. Sedangkan menurut Gama dan Widarti, 2008. Mengatakan bahwa teori integrasi informasi merupakan teori tentang pengorganisasian pesan atau informasi. Semua informasi harus memiliki potensi untuk memengaruhi sikap seseorang. Denga informasi maka dapat merubah derajat kepercayaan seseorang terhadap suatu objek dan juga mengubah kredibilitas kepercayaan seseorang yang sudah di miliki seseorang.






Rekomendasi
Berdasarkan  kasus yang telah di kaitkan dengan teori , dapat merekomendasikan beberapa hal terkait kasus krisis yang dialami oleh organisasi, khusunya Traveloka antara lain:
Untuk mencegah terjadinya krisis, hendaknya organisasi telebih dulu menganalisis kebutuhan yang dibutuhkan dalam mengadakan suatu kegiatan, seperti halnya masalah surat-menyurat. Selain itu, hendaknya organisasi juga terlebih dahulu menganalisis secara mendalam terkait dampak positif dan negatif yang ditimbulkan agar dapar diminimalisirkan sejak awal.
Penanganan terhadap krisis hendaknya dilakukan dengan cepat dan cepat menggunakan strategi komunikasi dan manajemen krisis yang terintegrasi antara satu dengan yang lainnya.
Untuk mengembalikan citra dan reputasi positif dimata publik, hendaknya organisasi juga melakukan media relations yang baik seperti mengeluarkan pernyataan atau press release mengenai krisis yang terjadi agar pemberitaan yang ada menjadi positif guna menggiring opini publik untuk menjadi positif juga terhadap organisasi.

Definisi dan manfaat teknologi informasi serta dampak mempelajarinya

TEKNOLOGI INFORMASI OLEH : IIS RAHMANTIKA C1B117017 JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS HALUO...